Ahh, Sudahlah
namaku anjaru. aku buta.
dari dulu aku tak bisa membayangkan bagaimana rupaku.
aku hanya bisa memastikan kalau lubang hidungku ada dua. telingaku dua. mataku pun dua, hanya saja tak berfungsi.
namaku anjaru. singkatan dari anjani dan mahameru. puncak dari rinjani dan semeru.
ibu panti yang menamaiku begitu. katanya supaya aku tangguh seperti dua gunung tadi.
umurku sekarang sudah 17 tahun. katanya di usiaku ini biasanya orang sudah punya kekasih.
aku sendiri tak tahu bagaimana wujud dari “kekasih” itu. atau bagaimana rasanya punya kekasih.
ahh, sudahlah. aku tidak mau bahas bagian “kekasih” ini.
nanti saja biar Tuhan yang memberiku kekasih.
aku hanya ingin cerita kehidupanku di panti.
kata ibu panti, dulu aku “dititipkan” di teras masjid samping panti.
entah kenapa ibu panti lebih memilih kata “dititipkan”, alih – alih “dibuang”.
mungkin supaya menjaga perasaanku. atau untuk menjaga perasaan orangtua asliku. mungkin ada maksud besar dibaliknya.
aku sendiri tak tahu alasan orangtuaku menaruhku di sini.
sedari dulu, ibu panti cuma bilang, justru karena orangtuaku sayang sama aku, makanya aku dititipkan di sini. supaya aku terawat dengan baik.
ahh, sudahlah. apapun alasan orangtuaku menaruhku di teras masjid saat itu, aku tak peduli.
toh aku sendiri hidup senang di sini. aku disayang ibu panti. ibu panti setiap hari memberiku uang saku sekedar untuk beli cuanki.
oh ya, ibu panti pernah bilang, kalau aku besar nanti, aku harus keluar panti.
katanya aku harus mengahadapi duniaku sendiri.
aku takut membayangkannya. dunia? kata orang dunia itu kejam. bahkan duniaku selama ini hanyalah sebatas tembok panti.
ahh, sudahlah. masih lama kan aku dewasa? lebih baik kunikmati saat – saat ini.
aku masih bebas bermain sepeda dengan relawan.
relawan lah teman baikku di panti ini. selain teman – teman tuna netra lain tentunya.
salah seorang relawan pernah bertanya padaku. bagaimana gambaran mimpiku di kala aku tidur?
kan aku tak pernah melihat dunia. jadi apa yang kulihat dalam mimpi?
ahaha. aku terbahak mendengarnya. ya, mimpiku hanya seperti apa yang kudengar. sebatas apa yang kuraba.
imajinasiku tak memiliki warna. bahkan rupa warna seperti apa? ku tak tahu.
ahh, sudahlah. kenapa kita malah membicarakan mimpiku?
itulah sedikit cerita tentang hidupku kawan..
aku anjaru. aku buta. dan aku butuh teman baru.
untuk menunjukkan kepadaku bagaiman rupa awan. bagaimana cara menggoreskan huruf O.
seperti yang orang normal lakukan.
ahh, sudahlah.
aku butuh teman yang menganggapku sama. sama-sama punya mimpi.
datanglah padaku kawan. bermain denganku. bermain dengan adik-adikku di sini..
Raden Anjaru Guruh Putra, desember 2011
kutulis sambil duduk di atas jendela panti