24/4/2013



12/6/2012



Cuilan “SI Semarang dan Onderwijs”

—”Kalau kita perhatikan pergaulan anak-anak di sekolah-sekolah masa sekarang, maka sia-sialah kita mencari geest (hawa) yang sepadan dengan usianya anak-anak. Murid-murid sekarang kerjanya lain tidak semacam mesin pabrik gula, yang siang malam tak…

View Post

shared via WordPress.com

11/6/2012



Obrolan di Kaki Langit

Matahari menggantung sejengkal dari horizon di ufuk barat. Awan putih masih menggelayut di antara tebing-tebing caldera Rinjani ~ bagai kapas yang dikoyak tak rata. Agustus memang saat paling tepat untuk mendaki, cuaca cerah, angin muson timur yang…

View Post

shared via WordPress.com

07/6/2012



They called ‘KIDS’

Hi, I’m Nate & I have DOWN SYNDROME.…

View Post

shared via WordPress.com

23:38



217 notes

This post was reblogged from SACRED SMILES..

04/5/2012



105,932 notes
sacred-smiles:

His smile.

sacred-smiles:

His smile.

This post was reblogged from SACRED SMILES..

29/1/2012



208 notes

Having a rough day? Place your hand over your heart, feel that? Thats called purpose, you’re alive for a reason. Don’t give up.

yeaahh. :)

This post was reblogged from SACRED SMILES..

01/1/2012



Terimakasih 2011!

Thanks to Allah SWT for the amazing 2011.. :D

“Terdampar” selama 2 minggu di KARIMUNJAWA — Geofiesta Pelabuhan Ratu — Purna Tugas BPH Terra ITB 2010/2011 — KARANGSAMBUNG yang bakal selalu dikenang — challenging journey to Mount RINJANI — sehari bersama geng gowes ( Goa Pindul – Pantai Sundak ) — bertemu sahabat2 baru bersama SKHOLE PM KM ITB — Puncak Burangrang — Puncak Nglanggeran :–> banyak teman baru yang menyenangkan, sekaligus adik-adik baru yang menenangkan. :)

2012 telah datang. What’s next? hohoho.

27/12/2011



Ahh, Sudahlah

namaku anjaru. aku buta.

dari dulu aku tak bisa membayangkan bagaimana rupaku.

aku hanya bisa memastikan kalau lubang hidungku ada dua. telingaku dua. mataku pun dua, hanya saja tak berfungsi.

namaku anjaru. singkatan dari anjani dan mahameru. puncak dari rinjani dan semeru.

ibu panti yang menamaiku begitu. katanya supaya aku tangguh seperti dua gunung tadi.

umurku sekarang sudah 17 tahun. katanya di usiaku ini biasanya orang sudah punya kekasih.

aku sendiri tak tahu bagaimana wujud dari “kekasih” itu. atau bagaimana rasanya punya kekasih.

ahh, sudahlah. aku tidak mau bahas bagian “kekasih” ini.

nanti saja biar Tuhan yang memberiku kekasih.

aku hanya ingin cerita kehidupanku di panti.

kata ibu panti, dulu aku “dititipkan” di teras masjid samping panti.

entah kenapa ibu panti lebih memilih kata “dititipkan”, alih – alih “dibuang”.

mungkin supaya menjaga perasaanku. atau untuk menjaga perasaan orangtua asliku. mungkin ada maksud besar dibaliknya.

aku sendiri tak tahu alasan orangtuaku menaruhku di sini.

sedari dulu, ibu panti cuma bilang, justru karena orangtuaku sayang sama aku, makanya aku dititipkan di sini. supaya aku terawat dengan baik.

ahh, sudahlah. apapun alasan orangtuaku menaruhku di teras masjid saat itu, aku tak peduli.

toh aku sendiri hidup senang di sini. aku disayang ibu panti. ibu panti setiap hari memberiku uang saku sekedar untuk beli cuanki.

oh ya, ibu panti pernah bilang, kalau aku besar nanti, aku harus keluar panti.

katanya aku harus mengahadapi duniaku sendiri.

aku takut membayangkannya. dunia? kata orang dunia itu kejam. bahkan duniaku selama ini hanyalah sebatas tembok panti.

ahh, sudahlah. masih lama kan aku dewasa? lebih baik kunikmati saat – saat ini.

aku masih bebas bermain sepeda dengan relawan.

relawan lah teman baikku di panti ini. selain teman – teman tuna netra lain tentunya.

salah seorang relawan pernah bertanya padaku. bagaimana gambaran mimpiku di kala aku tidur?

kan aku tak pernah melihat dunia. jadi apa yang kulihat dalam mimpi?

ahaha. aku terbahak mendengarnya. ya, mimpiku hanya seperti apa yang kudengar. sebatas apa yang kuraba.

imajinasiku tak memiliki warna. bahkan rupa warna seperti apa? ku tak tahu.

ahh, sudahlah. kenapa kita malah membicarakan mimpiku?

itulah sedikit cerita tentang hidupku kawan..

aku anjaru. aku buta. dan aku butuh teman baru.

untuk menunjukkan kepadaku bagaiman rupa awan. bagaimana cara menggoreskan huruf O.

seperti yang orang normal lakukan.

ahh, sudahlah.

aku butuh teman yang menganggapku sama. sama-sama punya mimpi.

datanglah padaku kawan. bermain denganku. bermain dengan adik-adikku di sini..

Raden Anjaru Guruh Putra, desember 2011

kutulis sambil duduk di atas jendela panti

24/12/2011



Bangsa Preman?

Sekali lagi ini hanya tulisan random. Entah kenapa kekerasan dan kebrobrokan bangsa ini masih jadi komoditi paling laris untuk ditayangkan di televisi. Setelah kabar pembantaian petani di mesuji, kini ada kabar tentang kematian warga sipil di Bima NTB, lagi-lagi oleh aparat kepolisian.

Jujur saya bukan ahli politik ataupun sok-sokan jadi pengamat politik. Saya juga tak tahu latar belakang apa di balik semua kejadian miris tersebut. Yang saya tahu hanya, ada yang salah dengan negeri ini. Dari zaman orde baru (pembantaian warga yang diduga terlibat PKI) sampai orde terkini, masih saja ada tindakan-tindakan anarkis aparat.

Kita nampak jadi terbiasa dengan yang namanya kekerasan. Sudah cukup sedih sebenarnya jika kita harus mengenang peristiwa Ambon, Poso, Sampit, ataupun insiden lainnya.

Saya yakin bangsa ini masih belajar. Belajar untuk jadi bangsa yang sabar. Bangsa yang tidak mudah diadu domba. Bangsa yang masih mempunyai nurani. Bukan bangsa preman.

Apapun yang terjadi kemarin dan kini, biarlah jadi catatan perjalanan. Layaknya seorang pendaki, mereka belajar banyak dari catatan perjalanan. Pun bangsa ini, untuk melangkah perlulah sedikit kita tengok momen-momen jatuh kita, agar kita lebih tegap berdiri.

Sekali lagi saya yakin, bangsa ini bukan bangsa preman.

#pesan untuk para pemangku siaran berita, jangan berita jelek mulu dong yang ditayangin. Berita-berita bagus kek, yang bikin lebih optimis, kita-kitanya. :D

Page 1 of 6